Ironis

 

 

 

Kedua gambar tersebut nyata terjadi dan langsung saya saksikan dari jarak kurang dari 5 meter.

Gambar 1 terjadi pada minggu yang lalu. Saat itu sedang berlangsung hajatan di suatu tempat. Sangat menyedihkan melihat makanan sebanyak itu dibiarkan begitu saja tanpa ada yang "bertanggung jawab". Bahkan, isi piring yang ada di tengah terkesan hanya "dicolek". 
Gambar 2 terjadi malam ini. Saat itu, saya sedang membeli makanan di WPJ (warung pinggir jalan). Tiba-tiba datang dua anak kecil yang menurut saya bersaudara. Kedua anak itu memperlihatkan beberapa lembar uang ribuan (perkiraan saya cuma tiga ribuan) sambil tersenyum ramah kepada penjual. Mereka katakan "Mas, nasi sambel ta dua". Sambil menunggu pesanan saya, saya terus memperhatikan tingkah kedua anak tersebut. Di pikiran saya, mungkin mereka disuruh orangtuanya untuk sekedar membeli nasi sebagai pelengkap lauk mereka di rumah.
Tak beberapa lama, pesanan kedua anak itu sudah diserahkan kepada mereka. Saya kembali berpikir, mungkin mereka sudah akan pulang. Ternyata.......mereka tetap duduk. Anak yang lebih tua mencium-cium aroma sambel dan nasi yang terbungkus. Eh..anak yang kedua melakukan hal yang sama. Sepertinya mereka sudah sangat kelaparan. 
Sampai di sini, saya masih membayangkan mereka segera pulang ke rumah untuk mencicipinya. Ternyata....lagi-lagi dugaan saya salah. Setelah puas mencium aroma sambel, dengan agak kesusahan, mereka berusaha membuka bungkus nasi tersebut. Setelah berhasil, muka mereka sangat senang melihat nasi campur sambel yang berada di depan mata mereka. 
Sebelum mencicipi makanan tersebut, anak yang lebih kecil terlebih dahulu mengambil saus kecap dan menuangkannya di atas nasi sambelnya. Anak yang satunya berkata, "Apa enaknya begitu?". Lalu dijawabnya, "liatmi....cobami.....". Tanpa menunggu lama, akhirnya kedua anak tersebut makan dengan sangat lahapnya seperti tidak makan seharian. Hanya berselang beberapa menit, nasi sambel yang ada di hadapan mereka sudah hampir habis. Sungguh menyedihkan melihat kejadian seperti itu. Tidak terbayangkan hal itu terjadi pada orang yang saya kenal atau pada Anda yang membaca tulisan ini.
Sungguh kontras dengan gambar 1 yang memperlihatkan makanan yang "dibuang" seperti itu. Entah sudah kebiasaan sebagian orang yang suka mengambil banyak makanan pada suatu pesta namun tidak menghabiskannya atau bahkan hanya "mencolek"nya. Padahal di tempat lain, makanan seperti hal yang mustahil untuk didapatkan. 
Untunglah, rejeki kedua anak tersebut tidak jauh. Di kantong saya masih ada sisa uang. Sambil berbisik kepada penjualnya, saya berikan lembaran yang seharga dengan seekor ikan goreng. Sambil berlalu, saya melihat penjual itu menggorengkan ikan dan memberitahu kedua anak tersebut agar jangan menghabiskan dahulu nasi sambel mereka. Mereka sangat antusias dan mereka sangat senang. 
Sedih....sangat sedih. Semoga hal itu tidak terjadi pada saya, keluarga saya, Anda yang membaca tulisan ini, dan yang lainnya. 
Rejeki memang tidak kemana-mana, tetapi berbagi rejeki kepada yang membutuhkan bisa di mana-mana.

nach oben